Guru Anti Gaptek

Dewasa ini perkembangan teknologi sangat pesat. ‎Mungkin hampir tak bisa diikuti oleh kebanyakan ‎orang yang lupa bahwa mereka hidup di zaman digital. Semua serba mudah, cepat dan tepat. ‎Sehingga segala sesuatu harus sesuai dengan ‎zamannya. Tangkas dalam teknologi meskipun berlatarbelakang seorang guru PAI. Bukan alasan ‎menutup diri untuk tidak menguasai.‎
Jangan sampai berbanding terbalik dengan ‎penggunaan jejaring sosial yang tidak produktif. ‎Indonesia menempati peringkat ke-4 pengguna ‎facebook dan peringkat ke-5 pengguna twitter. ‎Apalagi pengguna blog, sangat minim sekali seorang guru membagikan tulisannya di blog. ‎Padahal itu bisa menjadi media pembelajaran dan ‎rangkuman bahan ajar untuk siswa. Tapi ‎keaktifan pengguna jejaring sosial tidak  ‎dimanfaatkan dengan baik, sehingga apa-apa tidak ‎bisa, alasannya kurang menguasai, padahal itu bukan alasan bagi orang yang mau ‎mengkualitaskan diri. ‎
Perbincangan para guru di sekolah tentang UKG ‎‎(Uji Kompetensi Guru) sungguh sangat ironis. ‎Karena ketika dihadapkan dengan komputer ‎mereka mendadak gugup dan konsentrasi buyar. ‎Bagi guru ‘sepuh’ mungkin masih bisa dimaklum, ‎tapi bagi guru muda harusnya lebih terampil ‎mengoperasikan. Perbandingannya zaman ‎sekarang, mahasiswa hampir semua mempunyai laptop, zaman dulu, mahasiswa jangankan laptop, ‎mesin tik saja menyewa. Jadi itu semua bukan hal ‎yang terus-menerus dimaklumi. Karena guru ‎dituntut untuk bisa mengoperasikan dan ‎memanfaatkan, bukan untuk membuat program ‎seperti layaknya programmer komputer. Guru ‎sebagai kapasitas pengguna, bukan penyedia.‎
Kominfo merilis data pengguna internet ‎Indonesia sebanyak 63 juta orang, dan 95% dari ‎pengguna tersebut mengakses jejaring sosial. ‎Tidak aneh jika Indonesia menempati peringkat ‎ke-4 pengguna facebook di dunia setelah USA, ‎Brazil dan India. Peringkat ke-5 pengguna twitter ‎di dunia setelah USA, Brazil, Jepang dan Inggris. ‎Fakta yang tidak kalah aneh adalah kita terjebak ‎dengan penggunaan jejaring sosial sehingga lupa ‎berkarya dan meng-upgrade keterampilan ‎berteknologi. Akhirnya hanya jadi penikmat ‎karya orang ketimbang harus membuat karya ‎sendiri.‎
Kita ketahui, guru harus mempunyai empat ‎kompetensi, yaitu Pedagogik, Sosial, Kepribadian ‎dan Profesional. Kompetensi Teknologi Informasi ‎dan Komunikasi (TIK) pun harus mumpuni. TIK ‎menjadi kompetensi dasar perkembangan guru di ‎era digital, mengingat segala sesuatu sekarang ‎serba online. Pemerintah mengakomodir data ‎sekolah dari berbagai penjuru Indonesia, hingga ‎data tersebut bisa diakses oleh semua siswa, guru ‎dan masyarakat. Keterampilan TIK adalah sebuah ‎nilai positif yang tidak hanya dimiliki oleh ‎seorang saja, tapi harus ditularkan kepada guru ‎yang lain.‎

Bisa diprediksi berapa guru yang bisa ‎mengoperasikan dan mengerti computer di ‎SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK. Bahkan guru ‎yang mengajar di SMK sekali pun belum tentu ‎bisa mengoperasikan komputer, meski di sekolah ‎tersebut terdapat jurusan komputer. Jangan ada ‎ucapan kekesalan “lah sekarang apa-apa serba ‎online, serba ribet, lama dalam pengerjaan”. Ini ‎adalah ciri ketidaksanggupan seorang guru ‎mengikuti alur kemajuan lembaga pendidikan yang ditransformasikan oleh pemerintah melalui pangkalan data dan sistem pendidikan yang ‎terintegrasi dengan semua pusat data ‎pemerintahan. ‎
Cobalah studi virtual, bagaimana majunya ‎pendidikan di negara maju dengan kualitas ‎gurunya yang melek IT dan dan menggunakan IT ‎sebagai media pembelajaran. Pemerintah siap ‎menghadirkan komponen perangkat pembelajaran berbasis IT, tetapi SDM kita belum ‎siap untuk itu. Jangankan di pelosok-pelosok ‎negeri, di perkotaan pun, guru masih kurang ‎asupan gizi teknologi. Terlalu banyak alasan ‎untuk kemajuan sebuah pendidikan yang progresif yang diangan-angankan.‎

Teknologi tak mesti dipelajari di sekolah jika ‎hanya sekedar mengetahui dan mengerti. Banyak ‎media belajar yang representatif di dunia internet ‎yang bisa dijadikan rujukan alternatif. Guru ‎idaman adalah guru yang multitalenta. Guru idaman adalah guru yang mampu berdendang ‎dengan perkembangan zaman.‎
Beranilah berbeda dengan orang lain jika memang ‎persamaan hanya bisa membelenggu kreativitas. ‎Beranilah berbicara lantang meski hanya sekedar tulisan. Beranilah menjadi seorang guru yang ‎tidak lekang oleh zaman. Kuasai bahasa jika kau ‎ingin menguasai dunia. Kuasai teknologi jika kau ingin mengetahui seisi dunia nyata.‎
 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top